Infokota.co-Jakarta | Sorotan kritis terhadap kinerja serta independensi lembaga legislatif dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap eksekutif kembali mencuat di ruang publik digital.
Diskusi hangat warga net tersebut bermula dari ringkasan pandangan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenai kondisi Parlemen yang dibagikan oleh akun @LambeSahamjja pada tanggal 20 Juli 2026 pukul 11.49 AM.
Pemilik akun @LambeSahamjja menguraikan beberapa poin utama terkait kemerosotan peran pengawasan parlemen nasional.
“pendapat anies soal DPR Indonesia sekarang:”
“- DPR sekarang sudah seperti rasa kementerian”
“- tunduk ke pemerintah, bukan mengawasinya”
“- bahkan jadi juru bicara pemerintah”
“- dpr kehilangan kewenangan setaranya, dan itu tanda demokrasi menurun”
“- buktinya program mbg banyak masalah,”
“- tapi dpr diam saja, tak ada dengar pendapat khusus membahasnya”
Unggahan yang menyoroti pergeseran peran parlemen tersebut langsung memicu respons luas dari pengguna media sosial dengan beragam sudut pandang.
Kritik atas minimnya keberadaan fungsi wakil rakyat diutarakan oleh akun @Dodolmeong1 yang menuliskan, “Seince jaman jokowi periode ke-2 sampai dg sekarang @dpr_ri sdh antara ada dan tiada , ada gak terasa manfaatnya … gak ada pun sudah gak dipedulikan ….”.
Sementara itu, pandangan skeptis mengenai kesadaran pemilih dalam pemilu disampaikan oleh akun @pranoloadi melalui kolom komentar.
“Biarin aja pak. Toh mereka periode berikutnya msih kepilih lagi. sekarang aja menghujat², nanti pas dpt bansos sm 50k-100k mereka merendahkan lg dirinya sndri, liat aj yg udah² kluar dr prodeo, pas ktmu cium tngan sm orngny. Emng perlu dibinasakan semua. Udh kacau wakanda people.”
Pentingnya keseimbangan kekuasaan dalam sistem demokrasi juga ditegaskan oleh pemilik akun @foyaXBT dalam tanggapannya.
“Fungsi checks and balances itu jantungnya demokrasi. Kalau DPR udah jadi humas pemerintah ketimbang pengawasnya, yang hilang bukan cuma powernya lembaga tapi hak rakyat buat tahu ke mana duit dan kebijakan negara ini dibawa. MBG bermasalah aja gak ada RDP, itu red flag.”
Di sisi lain, nada sindiran keras terhadap motif politik pimpinan figuran dilayangkan oleh akun @k4rdim4nSaja dalam beberapa cuitan beruntun.
“…POKOKE Semua PASTI!!! salah di MATA yang kalah PILPRES, , Sakit hati sampai 2029…. Semoga sakit hati sampai 2034 aamiin Hayu jujur pasti kalah PILPRES 16:24Low Batt Nggedabrus….”
Akun @k4rdim4nSaja menambahkan komentar lain, “…di ketawain Muhammad Qodari, hanya menerima tidak pernah memberi,selalu di bantu, tapi paling sadis kalau menghina 11/ Hua ha ha ha ha ha Ga ada malunya, sudah menghianati AHY, masih berani datang ke rumahnya….aneh mau dukungan 2029…”.
Ia juga melempar tanggapan tajam, “…Kalah PILPRES, langsung mau ikut PILGUB 2024 kesana kemari, bingung sendiri, semua partai sudah tahu, ga ada yang mau dukung, NAFSU BANGED PENGEN BERKUASA nggedabruzzzz HARUSNYA KALAH PILPRES, TUNGGU PILPRES LAGI,…”.
Akar permasalahan kelembagaan turut dianalisis oleh pengguna lain seperti akun @Ryu_Souls yang menyebutkan, “Negara mau bener tuh bukan cuman milih presiden tpi benerin dr parpol sama DPR ny dlu, k2 itu beres otomatis pemimpin ny juga bkl beres.”.
Faktor kepatuhan partai politik internal dijelaskan oleh akun @IntanKintania dengan menulis, “ya gimana, mayoritas anggota dpr itu ketum parpolnya ada di pemerintahan. ya mesti tunduk. kalau kata bambang pacul mah, manut ketum.”.
Kritik terhadap kriteria pemilih pada masa mendatang disampaikan oleh akun @fitra_luth9801 yang menuliskan, “Indonesia sudah hancur kalau lama lama kek gini, 2029 harus bener bener pinter memilih, jgn milih karena jago joget, jgn memilih karena dia gemoy”.
Sebutan unik mengenai pergeseran fungsi dewan diungkapkan oleh akun @adammau2 melalui tanggapannya, “Ini mah bukan checks and balances lagi, udah jadi cheerleader pemerintah aja fungsinya”.
Kondisi penegakan hukum dan fungsi kontrol disindir oleh akun @thiticuit dengan komentar singkat, “Semakin tumpul ke atas emang nih negara”.
Rangkaian tanggapan publik tersebut diakhiri oleh keprihatinan atas pengaruh materi dalam politik yang disampaikan oleh akun @Marvelmaliki2.
Pemilik akun @Marvelmaliki2 menuliskan, “Kalau cuan dah bicara ..yg vokal bisa jadi bungkam ..”.*Red/Rep#








