Pasar sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat juga mulai kembali
aktif. Warga tampak ramai mengunjungi pasar untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, menciptakan suasana yang semakin mendekati kondisi normal.
Salah seorang pedagang ikan di Pasar Kuala Simpang, Herman,
mengungkapkan kondisi pasar saat ini sudah berangsur pulih.
“Alhamdulillah, sekarang sudah kembali normal,” kata Herman saat ditemui
di kiosnya, Rabu (29/4/2026).
Ia mengaku baru sekitar satu setengah bulan kembali berjualan setelah
tempat usahanya dibersihkan oleh aparat pemerintah.
“Sudah sebulan setengah, sudah dibersihkan oleh pemerintah kita,”
katanya.
Pasar daging yang berada di pinggir Sungai Tamiang tersebut menjadi
salah satu infrastruktur umum yang terdampak cukup parah akibat banjir.
Meski demikian, pasokan ikan kini sudah kembali tersedia dari berbagai
daerah.
“Pasokan ikan dari Banda Aceh ada, dari Sumatera Utara, dari Medan ada,”
ujarnya.
Namun, Herman berharap pemerintah dapat segera melakukan rehabilitasi
bangunan pasar, khususnya pada bagian atap yang rusak akibat banjir.
“Kalau bisa kami minta digantikan seng-seng ini. Seng-seng ini kan
banyak yang sudah hancur, sudah tidak layak lagi. Kalau hujan, sudah
jelas kami kena hujan,” harapnya.
Ia menuturkan, pada awal kembali berjualan, daya beli masyarakat masih
rendah sehingga dagangannya kurang laku. Namun, dalam beberapa waktu
terakhir, kondisi tersebut mulai membaik seiring meningkatnya aktivitas
masyarakat.
“Dalam beberapa bulan terakhir ini memang agak melemah, karena mungkin
banyak yang belum kerja. Karena posisi seperti ini ya. Tapi
Alhamdulillah ada juga, dan menunjukkan tren positif, makin hari makin
lebih baik,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dirasakan Nurlela, pedagang sayur di Pajak Atas,
Kuala Simpang. Ia baru kembali berjualan sekitar dua bulan terakhir
setelah terdampak banjir.
Nurlela menjual sayur-sayuran yang diperoleh dari petani di desanya,
Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. Ia memanfaatkan hasil pertanian lokal untuk
dipasarkan.
Pada awal masa pemulihan, ia sempat kesulitan mendapatkan pasokan karena
banyak lahan perkebunan warga rusak akibat banjir.
“Sekarang ini jualan cuma ubi, bayam, kangkung, itu dari masyarakat di
kampung,” kata Nurlela.
Seiring waktu, kondisi pasar semakin membaik. Toko-toko pakaian,
pedagang buah, sembako, serta berbagai kebutuhan lainnya mulai kembali
beroperasi.
Data Satgas PRR pada 27 April mencatat, sebanyak 196 pasar rakyat di
tiga provinsi terdampak sudah beroperasi secara fungsional. Rinciannya,
114 pasar di Aceh, 56 pasar di Sumatera Utara, dan 26 pasar di Sumatera
Barat. *di/Rel#












